Wanagama- Bagi sebagian mahasiswa, Wanagama adalah lembaran baru yang penuh misteri. Bagi yang lain, ia adalah tempat pulang yang sudah akrab. Namun, di akhir Praktik Umum Kehutanan (PUK) Universitas Nusa Bangsa, semua peserta sepakat bahwa KHDTK Wanagama memberikan pengalaman yang jauh melampaui ekspektasi mereka.
Bagi Nur Asyoroh, seorang pendatang baru, kunjungan pertamanya terasa seperti petualangan. “Dari yang cuma lihat di Google, ternyata tempatnya bagus dan menarik, jadi makin semangat,” ungkapnya. Berbeda dengan Nur, Rangga Santana sudah akrab dengan Wanagama setelah sebelumnya pernah PKL di Wanagama. Pengalaman itu membuatnya merasa nyaman dan tak khawatir. Meskipun memulai dengan pandangan berbeda, keduanya sepakat akan satu hal: suasana Wanagama yang sangat ramah. Mereka merasa terbantu dengan kebaikan para staf, para co-ass yang berasa kakak sendiri, hingga pemilik warung yang hangat dan sabar.
Di antara padatnya materi, ada topik yang benar-benar mencuri perhatian mereka. Nur merasa paling tertarik dengan pengelolaan jasa lingkungan. Baginya, materi ini terasa menyenangkan karena ia bisa berimajinasi sambil melihat langsung berbagai fasilitas di hutan, menciptakan sensasi “belajar sambil healing.” ujar Nur. Sementara itu, Rangga menemukan ketertarikan mendalam pada Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), yang memberinya pemahaman tentang potensi besar hutan selain kayu, bahkan berencana menjadikannya topik tugas akhir.
Sisi unik dari praktik ini justru datang dari momen-momen tak terduga. Nur memiliki cerita yang tak terlupakan saat ia tertabrak tumpukan rumput dari motor petani. Insiden kecil itu justru menjadi lelucon yang tak pernah berhenti dibahas dan menjadi kenangan manis. Di sisi lain, Rangga menemukan kebahagiaan dalam kebiasaan berjalan kaki ke mana pun selama praktik. “Biasanya di rumah pakai motor, tapi di sini sejauh apa pun kami harus jalan,” ujarnya. Pengalaman berjalan bersama satu angkatan itu membuatnya merasa “seru dan happy terus”. Seperti kata-kata yang dikutip oleh Nur, “Kalau hatinya senang, langkah sejauh apapun jadi ringan.”
Semua kenangan itu membuat hari-hari praktik terasa begitu cepat berlalu. Momen perpisahan menjadi hari yang paling berkesan bagi Nur, yang bahkan sampai menyempatkan diri lari pagi untuk menengok tempat-tempat praktik, merasakan haru karena waktu telah berlalu begitu cepat.
Secara keseluruhan, pengalaman di Wanagama dianggap lebih dari sekadar kegiatan akademik, melainkan sebuah perjalanan yang menyenangkan, penuh ilmu, dan persaudaraan. “Pokoknya Wanagama memang se-menyenangkan itu dan cocok buat kegiatan ekowisata atau buat yang mau healing–healing kecil di hutan,” kata Rangga. Mengakhiri ceritanya, Nur pun berpesan, “Kalau harus mengulang seribu kali pun, aku akan tetap memilih Wanagamsky-sapaan akrab para peserta untuk Wanagama.”
Penulis : Zulva (26/08)





